- Defenisi jadal al qur’an
- Jadal
Kata “jadal” atau “jidal” menunjuk pada pengertian perdebatan atau diskusi, sehingga jadal berarti saling tukar pikiran atau pendapat dengan jalan masing-masing berusaha berargumen dalam rangka untuk memenangkan pikiran atau pendapatnya dalam suatu perebatan yang sengit. Asal kata jadal ini adalah “jadaltu al habla” artinya aku mengokohkan pintalannya, seakan-akan kedua belah pihak yang berdebat itu mengadakan permintalan otaknya.[1]
Allah menyebutkan dalam al qur’an bahwa suka berdebat itu merupakan tabiat manusia[2].
Allah menyebutkan kata jadal dalm al qur’an sebanyak 29 kali yang tersebar pada 16 surat dalam 27 ayat, yaitu pada surat:Al-nisa’:109 dan Huud:32 masing-masing dua kali; Al-baqarah:197, Al-nisa’:107, Al- an’aam:121, Al-a’raf:71, Al-anfaal:6, Huud:74, Al-ra’d:13, Al-nahl:111,125, Al-kahfi:54,56, Al-hajj:3,8,68,
Al-ankabuut:46, Luqman:20, Ghafir:5,4,25,56,69, Al-syuraa:35, Al-zukhruf:58, Al-mujadalah:1 masing-masing satu kali.
Istilah-istilah yang dapat dipandang sebagai padanan dari kata jadal ini adalah kata “al munazharah, al muhawarah, al munaqasyah, dan al mubahatsah” istilah-istilah ini mengacu pada hal yang sama yaitu untuk menjelaskan suatu permasalahan. Hanya saja jadal lebih menekankan pada kemenangan, dan pada saat yang sama kekalahan bagi pihak lawan debat.
b. Al qur’an
Alqur’an adalah kalam Allah SWT yang merupakan mukjizat yang diturunkan kepada nabi muhammad SAW dan diriwayatkan secara mutawattir serta merupakan ibadah membacanya.
Dengan demikian jadal alqur’an adalah pembuktian-pembuktian serta pengungkapan dalil-dalil yang terkandung di dalamnya, untuk dihadapkan pada orang kafir dan mematahkan argumentasi para penentang denagn seluruh tujuan dan maksud mereka, sehingga kebenaran ajaran-Nya dapat diterima dan melekat di hati manusia.
2. Metode al qur’an dalam berdebat
Sebelum menjelaskan metode al qur’an dalam berdebat, akan dijelaskan terlebih dahulu cara yang disuruh oleh Rasulullah dalam berdebat
Dengan demikian jelaslah bahwa Allah membolehkan(menyuruh) mendebat orang musyrik dan ahli kitab dengan cara yang baik, yang dapat melemahkan pikiran dan sikap mereka yang kasar itu.
Sedangkan metode-metode al qur’an dalam berdebat adalah:[3]
a. Al ta’rifat
Allah SWT secara langsung memperkenalkan diri-Nya dan ciptaan-Nya sebagai pembuktian akan wujud dan kemahakuasaan-Nya. Karena Allah tidak terjangkau oleh indera manusia, maka dengan mengungkapkan hal-hal yang bisa ditangkap indera manusia, manusia akan mampu memahami wujud dan kekuasaan Allah.
b. Al istifham al taqriri
Dalam bentuk ini Allah mengajukan pertanyaan langsung dengan penetapan jawaban atasnya. Pertanyaan tentang hal yang sudah nyata diangkat lagi lalu disertai dengan jawaban yang merupakan penetapan atas kebenaran yang sudah pasti.
Prosedur ini dipandang oleh para ahli ulum al qur’an sebagai cara yang ampuh sekali. Sebab dapat membatalkan argumen atau jidal para pembantah.
c. Al tajzi’at
Dengan prosedur ini Allah mengungkapkan bagian-bagian dari suatu totalitas secara kronlogis yang sekaligus menjadi argumentasi dialektis untuk melemahkan lawan danmenetapkan suatu kebenaran. Masing-masing dapat berdiri sendiri untuk sebagai bukti untuk membuktikan kebenaran yang dimaksudkan. Prosedur jadal seperti ini nampak dalam perkataan Allah:
d. Qiyas al khalaf
Dalam bahasa
e. Al tamsil
Allah mengungkapakan perumpamaan bagi suatu hal. Dengan perumpamaan itu dimaksudkan agar suatu kebenaran dapat dipahami secara lebih tepat dan lebih mudah, lalu lebih melekat di sanubari lawan.
Seperti firman Allah dalm
f. Al muqabalat
Al muqabalat adalah mempertentangkan dua hal yang salah satunya memiliki efek yang jauh lebih besar dibanding dengan yang lainnya. Seperti mempertentangkan antara Allah SWT dengan berhala yang disembah oleh orang-orang kafir.
Mana’ul Quthan dalam bukunya mabaahist fi ulum al qur’an menjelaskan bahwa metode atau cara-cara yang digunakan al qur’an dalam berdebat adalah:
a) Allah menyebutkan ayat-ayat kauniyah agar dijadikan dalil bagi sendi-sendi akidah. Seperti firman Allah dalam
b) Menantang para penentang dengan cara:
1) Menetapkan pembicaraan dengan jalan istifham
2) Mengemukakan dalil-dalil bahwa Allah adalah tempat kembali
3) Membatalkan tuduhan lawan dalam bersengketa dan tetap melawannya
4) Sabru dan taqsim, yaitu mempersempit sifat-sifat, membatalkan, dan menjadikan yang satu sebab bagi yang lain. Sepaerti firman Allah dalam
5) Mengalahkan lawan dengan cara menjelaskan bahwa tuduhan yang diajukannya itu tidak seorangpun yang mengetahuinya.
Sedangkan menurut imam As-Suyuthi, metode al quran dalam mendebat adalah mengikuti kebiasaan orang Arab, bukan mengikuti ahli filsafat[4].
3. Macam-macam jadal al qur’an dan maudhu’nya
A. Macam-macam jadal al qur’an
Secara umum, jadal al qur’an dapat dikelompokkan dalam dua kategori:[5]
I. Jadal yang terpuji(al jadal al mamduh)
Jadal ini adalah suatu debat yang dilandasi niat yang ikhlas dan murni dengan cara-cara yang damai untuk mencari dan menemukan kebenaran. Contoh dari jadal jenis ini ada pada
II. Jadal yang tercela(al jadal al madzmum)
Jadal ini adalah setiap debat yang menonjolkan kebathilan atau dukungan atas kebathilan itu,contohnya dalam al qur’an:
Jadal al madzmum ini ada yang dilakukan dalam bentuk debat tanpa landasan keilmuan[6]
B. Maudhu’ jadal dalam al qur’an
Al maa’iy mengkategorikannya kedalam enam kelompok:
Ø Jadal dalam penetapan wujud Allah(QS. Al-jatsiyah:24-28)
Ø Jadal tentang penetapan keesaan Allah(QS. Al-anbiya’:22)
Ø Jadal tentang penetapan risalah(QS. Nuh:1-3)
Ø Jadal tentang kebangkitan dan pembalasan(QS. Al-mukminun:81-83)
Ø Jadal tentang tasyri’at(QS. Al-nahl:36)
Ø Jadal tentang tema lain. Seperti jadal musa dan khidir,jadal antara orang sabar yang miskin dan orang kafir yang kaya, dsb.
4. Tujuan jadal al qur’an
Tujuan yang dapat diambil dari ayat-ayat yang mengandung jadal antara lain:[7]
v Untuk menangkis dan melemahkan argumentasi-argumenrasi orang kafir
v Jawaban Allah tentang pembenaran akidah dan persoalan yang dihadapi rasul
v Layanan dialog bagi orang yang benar-benar ingin tahu,kemudian hasilnya itu dijadikan pegangan dan semacamnya, seperti jawaban Allah atas kegelisahan Nabi Ibrahim
v Sebagai bukti dan dalil yang dapat mematahkan dakwaan dan pertanyaan-pertanyaan yang muncul di kalangan umat manusia,seperti dialog Nabi Musa dengan Fir’aun(QS. Al-syu’araa:10-51)
[1] Mana’ul quthan:pembahasan ilmu al qur’an(Jakarta:Rineka Cipta,1995)hal.132
[2] ibid
[3] Al-ulama.net
[4] As-suyuthi,apa itu al qur’an(
[5] Al –ulama.net
[6] Yusuf Qardawi:al qur’an bicara tentang akal dan ilmu pengetahuan(
[7] Al-ulama.net
bagaimana kontroversi ulama tentang jadal alquran?
BalasHapusApa manfaatnya pada zaman sekarang